Cinta yang Mengingatkan dan Menguatkan

Hidup sendiri tidak jauh dari perasaan kesepian. Fitrahnya, manusia tidak akan  tahan hidup sendirian, tidak memiliki lingkungan pergaulan, apalagi sampai dengan mengisolasi diri. Perasaan kesepian ini akan memunculkan masalah kesehatan dan bahkan mempercepat kematian. Mungkin karena untuk menghindari perasaan seperti ini, maka ada kecenderungan saya untuk mempunyai pasangan hidup untuk menjadi sahabat, teman mengobrol dan berdiskusi, serta berkomunikasi.

Setelah meniatkan diri untuk mencari pendamping, Saya akhirnya memutuskan untuk menikah. Jalur yang saya lalui adalah dengan proses Ta’aruf. Agak jarang mungkin di kalangan Masyarakat Indonesia, apalagi di lingkungan yang akrab dengan sistem pacaran sebelum menikah. Kami berdua belum pernah kenal sebelumnya meskipun kami menuntut ilmu di kampus yang sama. Kami berkenalan, saling mengutarakan visi, kemudian menemukan kesesuaian dan akhirnya kami memutuskan untuk menikah.

Bagi saya, Ta’aruf merupakan media syar`i yang dapat digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap calon pasangan. Sisi yang dijadikan pengenalan tak hanya terkait dengan data global, melainkan juga termasuk hal-hal kecil yang menurut saya dan calon pasangan cukup penting yang tidak dijelaskan di proposal sebelumnya. Dan seperti inilah keindahan islam, semua proses semua itu harus dilakukan dengan adab dan etikanya. Pada saat itu, saya didampingi oleh Murobbi dan Istri saya didampingi oleh Murabbiyahnya. Proses Ta’aruf ini lebih kepada pembicaraan yang bersifat realistis untuk mempersiapkan sebuah perjalanan panjang berdua. Ta’aruf juga merupakan proses saling kenal mengenal pra nikah dengan dilandasi ketentuan syar’i, karena di dalam islam pun tidak ada yang nama nya pacaran, dan cinta sejati itu hanyalah milik Allah. MasyaAllah.

ikatan cintaSaat ini saya sudah melewati pernikahan selama satu bulan. Saya dan istri begitu merasakan kebahagiaan. Ada rasa yang awalnya canggung dan grogi karena sebelumnya tidak pernah saling kenal, namun itu semua tidak berlangsung lama. Kami yakin, dengan mencintai Allah maka Allah akan memberikan cinta diantara kami. Dalam waktu yang tidak lama, kami mulai dekat dan akrab, hingga kami pun merasakan nikmatnya pacaran setelah pernikahan. Cinta mulai tumbuh tanpa sebab, mungkin karena seringnya interaksi menjadikan rasa itu seiring tumbuh. Kami mulai menerima kekurangan masing-masing dan mensyukuri kelebihan masing-masing.

Usia pernikahan kami memang sangat singkat, kadang Allah menguji kami dengan permasalahan-permasalahan yang menjadikan kami dewasa, permasalahan-permasalahan yang sebenarnya sederhana tapi kami jadikan rumit, sehingga kadang diantara kami tertawa sendiri saat permasalahan itu bisa di selesaikan dengan sangat mudah.

Ada pelajaran buat kami bahwa sebenarnya yang membuat segala sesuatu tampak sederhana atau rumit, adalah diri sendiri. Bagaimana kami memandang dan menyikapi segala sesuatu. Sesuatu yang rumit bisa menjedai demikian sederhana, sebaliknya sesuatu yang sebenarnya sederhana bisa menjadi demikian rumit. Semua kembali kepada diri sendiri.

Berbeda dengan perasaan, Cinta pun demikian. Kami berusaha untuk tidak memandang cinta sebagai hal yang rumit, karena sesungguhnya cinta itu adalah hal-hal sederhana yang dilakukan dengan ketulusan dalam kehidupan keseharian. Cinta yang sederhana, tapi begitu menguatkan. Jika kami mampu memandang dengan cara seperti itu, niscaya kami menjumpai sangat banyak cinta dalam rumah tangga kami sehingga Konflik dan pertengkaran akan mampu dihadapi dengan baik sehingga tidak merusak kebahagiaan berumah tangga.

Cinta yang menguatkan, timbul dari kepercayaan antar pasangan. Saling percaya maka akan mudah bagi keduanya untuk saling mengingatkan. Bukti cinta adalah peduli, bukti peduli adalah tidak menginginkan pasangannya melakukan kesalahan. Oleh karena itu, saat terdapat kesalahan, maka dengan suka hati salah satunya mengingatkan yang lain. Saya dan istri berusaha untuk saling mengingatkan, karena dalam perjalanan keluarga, tidak mungkin mengayuh sendirian. Kami membuat kesepakatan bersama dengan tujuan demi keutuhan dan kebahagiaan keluarga. Kami berjanji untuk saling menjaga, saling menguatkan, saling mengingatkan, agar bahtera rumah tangga ini berada pada jalan yang benar.  Tidak menyimpang dan melanggar.

Dengan umur pernikahan yang masih muda ini, ada harapan semoga saya sebagai suami tidak lupa bagaimana cara memahami istri, memperhatikan istri, mendengarkan istri, menyayangi istri, dan mengetahui cara membahagiakan istri. Begitu juga istri. Saya ingin menjadi sahabat istimewa baginya.

Hanya dengan saling mengingatkan kita bisa mengurangi kerenggangan.

Hanya dengan saling menguatkan kita bisa mempererat tali ikatan.

Untuk keluarga baru ini, saling mengingatkan dan menguatkan.

Terima kasih istriku, terima kasih Allah atas keluarga baru ini.

IMG_20140516_110417

Leave a Reply

Saya Yakin Anda Juga Tertarik Membaca:close