Dua Ribu Tiga untuk Keluarga

Pada penghujung sore di dekat Mall Sarinah kawasan Jakarta Pusat, seorang laki-laki muda dengan berseragam biru, topi merah yang usang, celana jeans kumal sedang sibuk melayani pembeli dagangannya. Nampak wajah yang begitu bersemangat melayani para pembeli baik yang hanya beli Rp 2.000 atau Rp 10.000.

Pria kelahiran 28 tahun silam itu bernama Herman, merupakan anak dari seorang keluarga yang sederhana di Cirebon. Baru satu bulan dia bekerja di Jakarta, setelah beberapa tahun mencari pekerjaan di kampung tidak kunjung didapatkan. “Saya baru satu bulan mas di sini, di kampung saya tidak dapat pekerjaan, makanya pergi ke Jakarta siapa tahu bisa mendapatkan rezeki buat bantu keluarga,” ucapnya sambil tersenyum.

“Saya kesini modal nekat, istilahnya bonek. Gerobak ini saja hasil ngutang sama tetangga”. Satu-satunya gerobak yang Herman pakai untuk menjual gorengan merupakan hasil hutang dari tetangga yang belum lunas. Sebagian keuntungan yang dia dapat digunakan untuk menyicil hutangnya. Kadang keuntungan yang tidak seberapa hanya bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, apalagi hidup di Jakarta biayanya sangat besar. ::Baca Lebih Lanjut>>

IMG_20141120_073248edit1

Persaingan di Jakarta sangat tinggi sehingga Herman tidak memiliki pilihan pekerjaan lain. Pendidikan terakhirnya yang hanya sampai sekolah dasar membuatnya sulit untuk mencari pekerjaan. Walau dengan penghasilan yang pas-pasan, dia tetap bertahan dengan pekerjaannya.

Herman biasa menjual gorengannya dua ribu tiga (Rp 2.000 mendapat 3 biji). Kadang sehari dia bisa menjual sampai 300-400 ribu. Memang tampak besar, namun jika dilihat dari harga pokok yang juga tinggi, sehari untung bersihnya maksimal Rp 100.000.

Kenaikan harga BBM yang terjadi beberapa hari yang lalu juga menjadi masalah pahit yang harus diterima. Dia merelakan tidak menaikkan harga gorengannya karena takut dijauhi oleh pelanggannya. “Harga gorengan tetap dua ribu tiga mas, meskipun BBM sudah naik. Ya bagaimana lagi, dulu sebelum naik juga pembeli sedikit apalagi jika saya menaikkan harganya” ucapnya dengan nada rendah.

Herman menjadi andalan keluarga dalam mencari nafkah, baginya keluarga adalah nomor satu, sehingga harus tercukupi kebutuhannya. “Keluarga adalah segalanya bagi saya, mas. Meskipun dua ribu tiga, tapi ini untuk keluarga” sambil senyum dia berucap untuk kesekian kalinya.

Dampak kenaikan BBM memang sangat berpengaruh apalagi bagi pedagang kecil seperti Herman. Dia berharap, pemerintah dapat mengambil kebijakan yang dapat mendukung pedangang sepertinya.

Wahyu Ragil Saputro

Workshop Jurnalistik Tahun 2014,
Jakarta 18-21 November 2014

 

Leave a Reply

Saya Yakin Anda Juga Tertarik Membaca:close