Intangible Power

Ada empat momen kebaikan tertentu yang paling berat dilakukan, yakni memaafkan ketika marah, berderma ketika pailit, menjaga diri dari dosa (iffah) ketika sendirian, dan menyampaikan kebenaran kepada orang yang ditakuti atau diharapkan. (Ali bin Abi Thalib r.a).

Niat merupakan intangible power, Kekuatan tersembunyi yang menggerakkan seluruh potensi. Penentu bahagia dan sukses. Sayyidina Ali pernah mengalami hal tersebut dalam peperangan yang sengit, baku hantam. Hingga saatnya ia hendak memukulkan pedang, tiba-tiba musuhnya meludahinya. Ali hendak membunuhnya, namun ia lepaskan orang tersebut. Mengapa? Ia khawatir bergeser niatnya. “Sejak awal, saya berniat berjihad di jalan Allah, saya khawatir ketika diludahi dan saya membunuhnya karena niat merasa dihina orang tersebut.”

niat
Di zaman Nabi, dikisahkan Yazid bin al-Ahnas dengan anaknya. Yazid bersedekah beberapa dinar dan meletakkannya di belakang seseorang yang sedang sholat di masjid. Sebelum orang itu mengambilnya, datang anaknya yang bernama Ma’n bin Yazid. Melihat ada sedekah, Ma’n mengambilnya. Ketika ia tunjukkan kepada ayahnya (Yazid), ayahnya berkata, “Saya tidak bermaksud memberikannya kepadamu.” Akhirnya Ma’n mengadukan hal itu kepada Rasulullah. Rasulullah memutuskan,

“Wahai Yazid, kamu telah memperoleh pahala niatmu (bersedekah), dan kamu berhak memperoleh apa yang kamu ambil wahai Ma’n”. (H.r al-Bukhari).

Menarik dan unik, ini tidak boleh dipolitisasi dan direkayasa untuk bersedekah kepada keluarganya, biar pulang kandang. Tidak.

Dari kisah Yazid, justru kita belajar tulus dalam memberi, dan ridha menerima ketentuan Allah terhadap apa yang terjadi. Apabila tujuan suatu amal sudah diniatkan dan ditetapkan, dan ternyata keluarga kita yang memetik hasil kebaikannya, terima saja dengan keridhaan. Radhiitu billaahi Rabba wabil Islaami diina wa bi Muhammadin Nabiyyan wa Rasuulan.

Sesungguhnya amal bergantung pada niatnya. Ketika kita mendapatkan masalah, tanyakan kembali apa niat kita sesungguhnya. Misalnya orang berhutang dan tidak segera melunasi utangnya karena saat berutang ada tebersit keinginan untuk mengemplang alias berniat tidak membayar. Nah, kalau kemudian rezeki kita sulit, itu karena kita sudah meniatkan dan Allah Maha mengabulkan apa yang kita niatkan.

Contoh yang lain, orang menikah dengan niat yang tidak tulus, menyimpan ketidaksetiaan, mencari celah untuk selingkuh, kalau kemudian ada bencana perselingkuhan, itu karena pernah diniatkan. Niat kita tersimpan dalam “kotak hitam memori” yang suatu saat akan dibuka usai peristiwa. Seperti pesawat yang jatuh, seluruh rekaman perjalanan ada di sana.

Kita akan bekerja lebih baik jika memiliki tujuan. Kejelasan tujuan adalah “separuh kesuksesan”. Sebagaimana kejelasan masalah adalah separuh solusi. Kita bisa belajar dari pengalaman lapangan, orang mudah lelah dan bermasalah karena tujuan hidupnya tidak jelas sehingga pilihan pekerjaan dan profesinya dijalani dengan asal-asalan, tidak ada kesungguhan. Menyimpan dendam ketidakpuasan. Bila ini terjadi, kaji ulang, kembalikan kepada niatnya. Apa niat berkeluarga? Bila bahagia tujuannya, sediakan ruang hati yang lebih luas untuk kata bahagia.

Tujuan kita merupakan hasil pemikiran dan pemahaman yang kita sadari. Syaikh Ibnu Atha’illah mengatakan,

“Tiap-tiap kalimat yang keluar dari lisan, pastilah membawa corak bentuk hati yang mengeluarkannya. Hati bagaikan teko. Teko hanya mengeluarkan isinya. Bila ia berisi air kopi, maka yang keluar pun air kopi. Demikian pula jika isinya air bening, maka yang keluar pun pasti air bening.”

Hati-hati dengan apa yang kita masukkan ke dalam pikiran dan hati kita. Apa yang dimasukkan  akan disimpan, diolah hingga saatnya muncul menjadi perbuatan. Ada masalah? Cek ulang niatan dan perbuatan. Dijauhi dari perbuatan barangkali karena kata-kata yang terkontrol. Rezeki seret karena suka menghambat hak-hak orang lain. Hafalan macet karena hatinya kotor penuh maksiat. Pikiran ruwet karena sering berangan-angan yang menggelisahkan. Pekerjaan kacau balau karena tidak serius menata waktu.

Hati-hati dengan permintaan niatmu, karena suatu saat akan dikabulkan. Jangan pernah menyimpan niat jahat, meski disembunyikan di dalam hati. Imam Ibnu Rajab berkata, “Sesungguhnya keinginan berbuat jahat yang tersembunyi akan mengantarkan seseorang memperoleh su’ul khatimah.” Jauhi kemunafikan dengan memperbaharui niat syahid dan berjuangbersungguh-sungguh untuk meraihnya.

Barang siapa yang mati, dan tidak pernah berjihad serta tidak pernah berniat untuk berjihad, maka ia akan mati dalam salah satu cabang kemunafikan. (H.r Muslim).

Saudaraku, kita tidak bisa menghukumi niat orang lain, menuduh orang lain, menganggapnya tidak ikhlas, khawatir dengan keburukan yang disembunyikan. Tugas kita mewaspadai diri sendiri, agar tidak menjadi sumber masalah. Bisa jadi solusi kita tidak terbuka karena kita yang menutupi jalan ke sana. Pikiran buruk alias su’uzan thinking dikabulkan menjadi kenyataan.

Imam Syafi’i berpesan kepada murid-muridnya agar tidak menyebutkan namanya atau menghubungkan satu huruf pun kepada dirinya demi penguatan argumentasi. Misal dengan mengatakan, “Ini menurut Imam Syafi’i, ini diambil dari kitab Al-Umm karya Imam Syafi’i.”

Imam Syafi’i mengatakan, “Saya tidak pernah mendebat seseorang atau berdiskusi dengan seseorang untuk menjatuhkan dia atau untuk mengalahkan dia melainkan saya berharap ketika saya berdiskusi dengannya kebenaran muncul dari dirinya sendiri.”

Berkaca dari Imam Syafi’i, saya yakin Anda bisa menemukan solusi adalah hasil olah pikir, olah hati, olah raga, maupun olah jiwa. Temukan “Cara Anda menyelesaikan masalah.” Adapun bila kami dikehendaki untuk melatih Anda, tim Anda, instansi dan organisasi Anda, Alhamdulillah, itu skenario Allah mempererat silaturahmi dan memperbesar pintu-pintu kebaikan kita, InsyaAllah.

Selanjutnya, jangan sampai niat kita untuk melakukan kebaikan kita terhalang oleh seseorang, gamang atau bimbang. Perbarui niat. “Meninggalkan amal karena manusia itu riya’, karena takut dilihat orang kemudian tidak mau beramal itu juga riya’, sementara beramal untuk manusia itu syirik, dan ikhlas terlepas dari keduanya.”

Jangan karena takut riya’ lalu enggan beramal. Justru perbanyak amal, dilihat manusia atau tidak. Jangan sampai rasa takut terjatuh pada riya’ justru menjadi riya’ tersendiri. Bukankah kita tidak tahu mana diantara amal kita yang sah dan diterima olah Allah? Allahu a’lam.

tanda tangan

Spiritual Problem Solving

– Solikhin Zero to Hero
– Kang Puji Hartono, SPS

4 Comments

  1. Ammar March 17, 2013 4:04 pm Reply

    Untuk pribadi diri yang lebih baik! 🙂

    • Agil Saputra March 18, 2013 11:43 am Reply

      Tentunya! 🙂

  2. Sprei Shop March 20, 2013 4:09 am Reply

    Blog nya tampilannya bagus akh..

    http://www.facebook.com/grosirspreimurah

  3. agil_saputra March 20, 2013 4:40 am Reply

    Iya, makasih akh, ini belajar edit sendiri, searching-searching tips dan trik. tapi masih perlu belajar lebih banyak lagi 🙂

Leave a Reply

Saya Yakin Anda Juga Tertarik Membaca:close