Jeda Itu Penting

Sudah Sekitar tiga bulan tidak menulis di web ini, padahal target perbulan minimal satu kali saya memposting sebuah tulisan. Alasan mulai dari minimnya akses internet, habisnya masa berlaku akun wahyu.ragil@depkeu.go.id, sampai dengan mobilisasi kegiatan yang tidak bersahabat untuk meluangkan waktu menulis.

Waktu kosong tanpa menulis inilah bisa dibilang sebuah jeda, yaitu Istirahat dari kegiatan menulis untuk menemukan ritme baru dalam memperbaiki kualitas tulisan.

Apa Pentingnya sebuah Jeda?

Jeda merupakan Jarak antara Kegiatan-kegiatan atau aktivitas rutin sebagai bagian tidak terpisahkan dari kegiatan tersebut. Di Televisi kita mengenal iklan sebagai jeda, atau tidur setelah melakukan aktivitas sehari-hari juga bisa disebut jeda.

Suatu malam, Saya pernah diajak seorang teman untuk menghadiri sebuah Kegiatan Komunitas Maiyah Di Taman Ismail Marzuki. Pada Saat itu Emha Ainun Najib (Cak Nun) Pernah bilang bahwa Jeda itu Penting, Sunyi itu penting. Jika kita terlalu banyak bicara, diam itu penting. Jika kita terlalu banyak makan, puasa itu penting.

Saat kita mendengar suara adzan misalnya, ada jeda antara Allahuakbar..Allahuakbar pertama dengan yang kedua, Jeda waktu antara 3-4 detik. Ada kesunyian diantara jeda, ada sebuah ritme di dalam adzan tersebut untuk beranjak dari kalimat pertama ke kalimat kedua. Di stasiun-stasiun televisi, atas dasar pertimbangan kapitalisme, saat ini durasi jeda diantara kalimat-kalimat adzan telah dikurangi, padahal sekali lagi: sunyi itu penting.

Seseorang yang sedang sakit, bisa juga disebut dalam proses Jeda. Seperti yang saya alami Tiga pekan terakhir ini, kegiatan-kegiatan rutin yang biasanya dihadiri sengaja saya kurangi satu per satu. Rasanya sangat merugi ketika kegiatan yang seharusnya bisa dilaksanakan dan ilmu-ilmu yang bisa diambil dari beberapa kali halaqah dan kursus bahasa tidak bisa diambil. Tapi kadang kita memerlukan sakit, karena saat sakit itu kita dapat tumbuh. Saat sakit kita jadi ingat bahwa sehat itu sangat berarti dan sesuatu yang harus disyukuri. Sakit itu Jeda, Sakit itu pengingat.

Untuk kita yang sedang sibuk, Jeda juga penting. Saya coba ambil sebuah pernyataan dari JamilAzzaini tentang sebuah Jeda. โ€œKesibukan itu melenakan, kesibukan tak terkendali itu menurunkan taraf kebahagiaan, Maka agar kamu tak diperbudak dunia, lakukan jeda secara berkala. Jeda Harianmu adalah sholat dan doa, Jeda berkalamu nikmati kebersamaanmu bersama keluarga. Beberapa tahun sekali, jedalah ke tanah suci.โ€

JedaJeda dalam detakan jantung, salah satu Ritme ciptaanNya

Apapun itu, Sakit, Kesulitan, atau Penderitaan, Ambilah konsep bahwa semua itu penting untuk kita. Kita membutuhkannya untuk tumbuh. Untuk menjadi manusia yang Berhasil. Salam.

4 Comments

  1. anas isnaeni January 26, 2014 7:51 am Reply

    menyepakati banget.. dan jeda untuk saya pribadi saat ini adalah cuti pulang kampung ๐Ÿ™‚

    • Agil Saputra January 27, 2014 4:43 pm Reply

      Asyik nih yang Pulkam, Jangan kelamaan di Jawa Mas, Nanti Lupa Painan. ๐Ÿ˜€

      http://Agilsaputra.com/

  2. saidiblogger January 28, 2014 9:05 am Reply

    bener tu akh. sama kayak naik gunung itu yang paling nikmat istirahatnya alias jeda. ๐Ÿ˜€

    mampir ke blog ana ya.. saidiregar.com ๐Ÿ˜€

    • Agil Saputra January 28, 2014 10:34 am Reply

      Haha,kerasa nikmatnya meskipun ana sendiri belum pernah naik gunung. ๐Ÿ˜€

      Sip.

      http://Agilsaputra.com/

Leave a Reply

Saya Yakin Anda Juga Tertarik Membaca:close