Karena Cinta Itu (Tidak) Kontroversial

Apakah anda pernah merasakan jatuh cinta? sebagian besar pembaca pasti sudah merasakannya, atau mungkin saja saat ini anda sedang mengalaminya?. Saya punya seorang sahabat yang bisa dibilang sedang jatuh cinta. Akhir-akhir ini tingkah lakunya berubah drastis. Ia suka termenung dan matanya sering menerawang jauh. Jemari tangannya sibuk ketak ketik di atas tombol telpon genggamnya, sambil sesekali tertawa renyah, saling balas dengan pujaan hatinya. Sesekali tampak bagaimana hubungannya dengan pujaan hatinya di berbagai media sosial, seakan ingin mengabarkan ke dunia bagaimana Indahnya menikmati cinta. Penampilannya kini rapi, sesuatu yang dulu luput dari perhatiannya. Baginya, semua tampak Indah, warna warni, dan wangi semerbak.

Saya tercenung melihat cintanya yang begitu dalam. Sehingga menyeruak juga sebersit kontradiksi yang mengusik lubuk hati. Sebagai manusia, wajar jika setiap orang ingin merasakan totalitas mencintai dan dicintai seseorang seperti dia. Tetapi bukankah kita diwajibkan untuk mencintai Allah lebih dari mencintai makhluk dan segala ciptaanNya?

Lantas apakah kita tidak boleh mencintai seseorang seperti sahabat saya itu? bagaimana menyikapi cinta pada seseorang yang tumbuh dari lubuk hati? apakah cinta itu adalah karunia sehingga boleh dinikmati dan disyukuri ataukah berupa godaan sehingga perlu dibelenggu? bagaimana sebenarnya Islam menuntut umatnya dalam mengapresiasi cinta? Memang tidak mudah menemukan jawaban cinta yang kontroversial ini.

cinta

Setelah mencari beberapa referensi, Islam mengajarkan bahwa seluruh energi cinta manusia seyogyanya digiring mengarah pada Sang Khalik, sehingga cinta kepada-Nya jauh melebihi cinta pada sesama makhluk. Justru, cinta pada sesama makhluk dicurahkan semata-mata karena mencintai-Nya.
Dalam QS Al Baqarah 165 Allah berfirman:

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”

Allah SWT telah menyampaikan pesan mengenai perbedaan dan garis pemisah antara orang-orang yang beriman dengan yang tidak beriman melalui indikator perasaan cintanya. Orang yang beriman akan memberikan porsi, intensitas, dan kedalaman cintanya yang jauh lebih besar pada Allah. Sedangkan orang yang tidak beriman akan memberikannya justru kepada selain Allah, yaitu pada makhluk, harta, atau kekuasaan.

Perasaan cinta adalah abstrak. Namun perasaan cinta bisa diwujudkan sebagai perilaku yang tampak oleh mata. Di antara tanda-tanda cinta seseorang kepada Allah SWT adalah banyak bermunajat, sholat sunnah, membaca Al Qur’an dan berdzikir karena dia ingin selalu bercengkerama dan mencurahkan semua perasaan hanya kepada-Nya. Bila Sang Khaliq memanggilnya melalui suara adzan maka dia bersegera menuju ke tempat sholat agar bisa berjumpa dengan-Nya. Bahkan bila malam tiba, dia ikhlas bangun tidur untuk berduaan (ber-khalwat) dengan Rabb kekasihnya melalui shalat tahajjud.

Totalitas rasa cinta kepada Allah SWT juga merasuk hingga sekujur roh dan tubuhnya. Dia selalu mengharapkan rahmat, ampunan, dan ridha-Nya pada setiap tindak-tanduk dan tutur katanya. Rasa takut atau cemas selalu timbul kalau-kalau Dia menjauhinya, bahkan hatinya merana tatkala membayangkan azab Rabb-nya akibat kealpaannya. Yang lebih dahsyat lagi, qalbunya selalu bergetar manakala mendengar nama-Nya disebut. Singkatnya, hatinya tenang bila selalu mengingat-Nya. Benar-benar sebuah cinta yang sempurna.

Alangkah indahnya Islam, Di dalamnya ada syariat yang mengatur bagaimana seharusnya manusia mengelola perasaan cintanya, sehingga menghasilkan cinta yang lebih dalam, lebih murni, dan lebih abadi. Semoga bisa menjadi pengingat dan inspirasi baik untuk diri saya sendiri maupun bagi para pembaca.

Ref: – Bunga Rampai X

Leave a Reply

Saya Yakin Anda Juga Tertarik Membaca:close