LOMBA POSTER “Melawan Korupsi Dengan Seni”

Departemen Komunikasi dan Informasi Badan Eksekutif Mahasiswa STAN 2010/2011 mengadakan acara Communication For Extraordinary Expression (CONFESS), acara ini merupakan salah satu rangkaian acara yang cukup besar dari program kerja Departemen tersebut. Tujuan acara ini untuk Melatih bagaimana berkomunikasi secara efektif di kalangan Mahasiswa. Salah satu bagian dari acara ini adalah Lomba Desain Grafis.

Lomba Desain Grafis ini dinilai dari beberapa aspek, Yaitu Konten, Bentuk, Makna. Dari berbagai Peserta, Inilah 3 besar Karya terbaik dari mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.

  1. Judul: “Menghancurkan korupsi itu dari akarnya”, Karya Ayub Sofyan Albana

Deskripsi gambar:

Masyarakat kita pada umumnya menyikapi pemberantasan korupsi hanya dari pangkal luarnya saja. Kita tidak menyadari bahwa sumber dari korupsi itu sendiri telah tertanam kuat pada diri kita masing-masing, dan sumber atau akar dari korupsi itulah yang harus kita hilangkan, bukan hanya dengan menindak kasus-kasus yang tampak dari luar saja.

Untuk menghancurkan korupsi itu bukan hanya dari ujungnya saja, tapi juga dari akar-akarnya.

2. Judul: “KEREN”, Oleh  Muhammad Fithrah

Deskripsi:

dengan tagline “Merasa Keren dengan Uang Banyak? Pikir Kembali!”, mengajak pembaca untuk paham bahwa memiliki uang banyak bukanlah jalan utama menuju kebahagiaan hidup.

Kesederhanaan juga menjamin kebahagiaan hidup.

Kesederhanaan membantu mencegah munculnya bibit korupsi.

3.  Judul: “Bunuh Koruptor!”, Oleh Tenisanta Rizqi Masruri

Penjelasan desain:

Dalam gambar tampak seekor tikus yang mengibaratkan koruptor, dicekik oleh tangan  bertuliskan “HUKUM”, saya hanya ingin menyampaikan bahwa koruptor harus ditindak  tegas secara hukum, seperti tulisan yang terpampang jelas dalam desain, “BUNUH  KORUPTOR!”. Kita tahu di Indonesia, penanganan kasus korupsi terlihat lembek,  tidak khayal Indonesia terkenal sebagai negara dengan tingkat korupsi yang tinggi  di Asia. Dalam hukum di Indonesia, teroris saja bisa dihukum mati, kenapa  koruptor tidak bisa?? karena teroris membunuh banyak orang tak bersalah??

Bukankah koruptor juga telah membunuh banyak rakyat kecil?! Koruptor dengan  seenaknya mengambil bagian yang bukan hak miliknya, seperti dana APBD atau APBN  yang dikorupsi, seharusnya itu adalah dana bagi kemasylahatan masyarakat…

Bukankah hal ini membuat ketimpangan sosial yang semakin besar, yang kaya semakin  kaya, yang miskin semakin miskin. Oleh karena itu, adakah yang salah jika  koruptor dihukum mati? dari desain ini saya hanya ingin mengingatkan bahwa ada  satu solusi tegas agar korupsi tidak meraja lela di Indonesia, satu saja koruptor dikenai hukuman mati, ini akan memberikan efek jera pada koruptor lain…..

Desain dibuat dengan sederhana, karena sebenarnya apa yang kita harapkan sangat  sederhana, hukum koruptor secara tegas!!

Warna dasar hitam mengibaratkan kenyataan hukum yang masih gelap dalam  menuntaskan kasus korupsi dan gambar yang berwarna putih mengibaratkan sebuah harapan, sebuah tindakan yang sesuai hati nurani, agar para koruptor dihukum seberat-beratnya.. dihukum mati..

Semoga semua generasi korupsi musnah dari Indonesia, meski terlihat sulit, tapi  apa salahnya jika kita optimis…..

MERDEKA!!

tanda tangan

6 Comments

  1. umams February 26, 2013 11:24 am Reply

    bagus-bagu akh, karyanya. kirain karya yg bikin blog ini 😛

    http://www.kh-umams.com

    • Agil Saputra February 26, 2013 2:06 pm Reply

      Hehe, ane mah Jurinya aja…

  2. iis February 27, 2013 8:17 pm Reply

    wah… keren dah jd juri.. 🙂

    *seni tak hanya tak sekedar keindahan. bahkan bisa lebih dari sebuag media perjuangan bangsa

    http://bermanfatlah.blogspot.com

    • Agil Saputra March 1, 2013 10:04 am Reply

      Hehe,

      Benar, Seni bisa dijadikan bahasa komunikasi.

  3. Triyoga Adi perdana March 4, 2013 5:15 am Reply

    Karyamu dimana masbro? 🙂

    http://triyogaadiperdana.wordpress.com

    • Agil Saputra March 4, 2013 10:11 am Reply

      Karyaku ga juara… 😀

Leave a Reply

Saya Yakin Anda Juga Tertarik Membaca:close