Mempererat Tali Syahadat

Alhamdulillah, tanggal 25 Januari 2014 merupakan Pembukaan Dauroh Madah Tarbiyah di Masjid Al Amanah Kementerian Keuangan. Dauroh ini rencananya akan diadakan setiap bulan dengan tujuan meningkatkan pemahaman sebagai bekal ilmu di daerah. Kegiatan ini ditujukan khusus kepada pegawai yang akan ditempatkan di daerah-daerah seluruh wilayah Nusantara, oleh karena itu banyak dari kalangan senior yang menyebutkan peserta ini sebagai Da’i Nusantara. Apa pun itu sebutannya, semoga bekal ilmu ini memang manfaat.

Materi di Pertemuan Pertama dikhususkan untuk memahami makna syahadatain, mulai dari urgensi sampai dengan realisasi makna syahadat.

URGENSI SYAHADATAIN

Syahadatain adalah pintu gerbang Islam

Untuk masuk Islam, orang harus menyatakan persaksiannya atas kebenaran Islam itu dengan mengucapkan Syahadatain. Syahadat tauhid merupakan pengakuan terhadap ketuhanan Allah yang menurunkan sistem ini kepada NabiNya. Syahadat rasul merupakan pengakuan bahwa Muhammad SAW harus dijadikan panutan dalam menjalankan Islam. Dengan mengucapkannya, maka seseorang telah diakui sebagai muslim yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan muslim yang lain, aman dan damai dalam naungan islam.

Rasulullah SAW bersabda,

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan laa ilaha illallah, apabila mereka telah mengucapkan laa ilaaha illallah maka darah dan harta mereka menjadi suci.”

Mendengar laporan bahwa Usamah bin Zaid tetap memenggal musuh yang telah mengucapkan syahadat, Rasulullah SAW marah dan mengatakan kepadanya,

“Mengapa tidak kau belah saja dadanya, sehingga engkau tahu isi hati dia yang sebenarnya!”

Syahadatain merupakan intisari ajaran islam

Secara global islam terdiri atas aqidah dan syariah. Sisi-sisi lain Islam terdiri dari ibadah, akhlak, dan muamalat merupakan implementasi syahadat tauhid dan syahadat rasul ini.

Azas Perubahan

Ketika hendak membangun masyarakat baru di atas puing-puing jahiliyah, Rasulullah SAW tidak mengawali perubahan itu dari politik, ekonomi, atau yang lain. Beliau SAW mengawalinya dengan merubah apa yang ada di dalam jiwa. Hal paling penting yang ada di dalam jiwa itu adalah keyakinan. Dengan syahadatain itu, terjadilah perubahan besar yang sangat mendasar dalam seluruh aspek kehidupan generasi terbaik itu. Bangsa yang kecil, terisolir, dan terbelakang tersebut kemudian menjadi bangsa terbaik yang pernah dilahirkan untuk seluruh bangsa. Mereka hijrah dari jahiliyah menuju islam, dari kegelapan menuju cahaya yang terang-benderang.

Inti dakwah para rasul

Syahadatain dengan konsepsi semacam itulah yang didakwahkan para nabi dan rasul. Mereka semua mengatakan, “Fattaqullah wa athii’uuni!!!” (bertaqwalah kepada Allah dan taatilah aku!). Statemen mereka diabadikan Al-Quran dalam kisah-kisah para nabi yang tersebar di berbagai surat.

Fadilah dan Keutamaannya

Banyak fadilah dan keutamaan yang terkandung di dalam syahadatain, di antaranya seperti yang dikatakan Rasul SAW sendiri:

“Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallah, ia masuk surga.”

“Barangsiapa mati sedang ia mengetahui bahwa tidak ada tuhan selain Allah, ia masuk surga.

“Dua Kata yang ringat diucapkan namun berat timbangannya, yakni: laa ilaaha illahllah, Muhammad rasulullah.”

Saat Rasul SAW mendakwahkan syahadatain di makkah, masyarakat terbagi dua. Satu Golongan menerimanya dengan tulus, siap total menanggung segala konsekuensi dengan mempertaruhkan seluruh jiwa dan raga pula. Kedua golongan tersebut, sangat memahami makna dan konsekuensi dari syahadat itu.

MAKNA YANG TERKANDUNG DALAM SYAHADATAIN

Syahadatain dalam bahasa Arab memiliki lebih dari satu makna, tergantung konteks kalimatnya. Beberapa makna yang dapat kita temukan dalam kamus bahasa Arab diantaranya adalah:

Syahida: Melihat, hadir, mengetahui

Syahida lahi bi…: ikrar, menyatakan, mengakui.

Syahida bi…: Berjanji, bersumpah

Syahidallahu: Allah mengetahui.

Janji dan sumpah hanya akan dilakukan ketika orang benar-benar mengetahui dan yakin dengan apa yang ia nyatakan. Karenanya, ia pasti akan mempertahankan dan memperjuangkan ikrarnya secara sungguh-sungguh. Pernyataan imam berupa syahadatain yang benar adalah persaksian iman yang didasarkan atas ma’rifah, ilmu, pengetahuan, berdasarkan dalil, bukti, dan argumentasi.

“Karena itu ilmuilah (Ketahuilah) bahwa tidak ada tuhan selain Allah.”

Dapat dikatakan bahwa setelah melalui proses pencerahan dengan memperhatikan dan mengamati tanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat di alam semesta maupun ayat-ayat suci didalam kitab-Nya, orang akan dapat mengambil kesimpulan bahwa Allah itu ada dengan segala sifat-sifat kesempurnaanNya. Setelah itu, dengan kesadaran yang mandalam ia menyatakan kekaguman, pengagungan, ikrar, dan sumpahnya dengan mengucap, Asyhadu anlaa ilaaha illallah. Ia tolak tuhan lain apapun bentuk dan wujudnya, hanya Allah saja yang ia akui sebagai ilah (tuhan). Ia tidak bermain-main saat mengucapkan persaksiannya itu. Ia mengucapkannya dengan penuh kesadaran bahkan kesediaan untuk menjalani segala risiko. Itulah yang disebut iman.

Hadist menyebutkan bahwa iman itu merupakan keyakinan dalam hati yang diucapkan secara lisan dan diamalkan dengan angota badan. Iman harus terdiri atas ketiga hal tersebut. Kalau Pembenaran (pengakuan) dengan hati saja dan tidak dinyatakan dengan kata-kata, ini disebut kekafiran. Orang-orang kafir-pada waktu itu- bukan tidak mengetahui kebesaran Allah, bahkan mereka sangat memahaminya. Karena keengganannya menyatakan pengakuan hatinya itulah mereka disebut kafir (orang yang menutupi keyakinan hatinya dengan pengingkaran melalui ucapan dan perbuatan). Demikian juga, keimanan tidak benar kalau hanya terdiri atas ucapan dan amal nyata tanpa keyakinan hati, karena ketaatan lahiriah yang tidak sama dengan keyakinan hati berarti kemunafikan.

Keimanan yang terdiri atas tiga hal itulah keimanan yang dapat menjamin konsistensi. Apa pun yang terjadi tidak akan menggoyahkan bahkan ketika harus menghadapi cobaan yang terberat sekalipun.

Abu Umar Sufyan bin Abdullah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, katakana kepadaku sesuatu dalam Islam yang dengan itu aku tidak perlu bertanya lagi kepada orang lain!”

Rasulullah SAW menjawab,

“Katakan! Aku telah beriman kemudian istiqomahlah!” (HR. Muslim)

Konsistensi dalam iman dan ketaatan adalah anugerah Allah yang sangat mahal harganya karena ia akan memunculkan keberanian, ketenangan, dan optimis sehingga seseorang bebas dari rasa takut, keresahan, dan kecemasan dalam menjalankan kehidupan. Itulah kebahagiaan yang sebenarnya.

SYARAT-SYARAT DITERIMANYA SYAHADATAIN

Kalau kita cermati AlQuran dan Sunnah, akan kita dapati nash-nash yang menyatakan bahwa ada beberapa hal yang membatalkan syahadat yang telah diucapkan. Hal ini karena syahadat menuntut adanya konsekuensi dan komitmen. Syahadat beru benar dan dapat diterima apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Ilmu yang menghilangkan kebodohan

Makna dan konsekuensi syahadatain hendaklah diketahui secara baik karena islam tidak menerima pengakuan dan pernyataan yang didasarkan pada ketidaktahuan. Persaksian yang tidak didasarkan pada ilmu akan sangat rapuh Karena ia tidak mengakar sebagai keyakinan.

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah.” (Muhammad: 19)

 2. Keyakinan yang menghilangkan keraguan

Syahadatain yang didasarkan atas pengetahuan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan akan melahirkan keyakinan yang mantap dan menghilangkan keraguan di dalam hati.

“Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman!” Katakanlah (Muhammad), “Kalian belum beriman! Tetapi katakanlah, “Kami telah tunduk!” karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.”

(Al-Hujarat: 15)

Rasulullah bersabda,

“Iman itu bukan angan-angan dan hiasan. Ia adalah sesuatu yang bersemayam didalam hati dan dibenarkan oleh amal perbuatan.”

3. Keikhlasan dan bebas dari kemusyrikan

Syahadatain harus diucapkan dengan ikhlas karena Allah dan tidak ada niatan lain selain mengharap ridhaNya. Niat yang tidak ikhlas termasuk syirik, padahal Allah tidak mengampuni dosa kemusyrikan.

4. Jujur, Bukan Dusta

Syahadat harus diucapkan dengan sejujurnya, bukan dengan dusta. Kemunafikan merupakan perbuatan yang sangat tercela sehingga Allah menyiksa orang-orang munafik diatas neraka.

“Mereka hendak mengelabuhi Allah dan orang-orang yang beriman, padahal sebenarnya mereka hanya mengelabuhi diri mereka sendiri sedang mereka tidak menyadari.” (Al-Baqarah: 9).

5. Cinta bukan benci dan terpaksa

Syahadatain harus disertai dengan kecintaan bukan dengan kebencian. Hal ini akan dapat dicapai bila proses syahadatain dilakukan melalui syarat-syarat diatas.

6. Menerima bukan menolak

Tidak ada alasan untuk menolak syahadatain dan konsekuensinya karena ia hanya akan mendatangkan kebaikan di dunia maupun di akhirat.

7. Patuh melaksanakan, tanpa keengganan beramal

Sebagaimana tersebut dalam hadist di atas,”…dan dibenarkan dengan amal”. Para ulama menyebut bahwa iman harus meliputi keyakinan di hati, ikrar dengan lisan, dan amal dengan angora badan.

8. Ridha menerima Allah sebagai tuhannya, Rasul sebagai uswahnya, dan Islam sebagai jalan hidupnya.

Syuruthu-Qubulisy-Syahadatain-Syarat-syarat-Diterimanya-Syahadat-

Delapan syarat ini saling terkait dan tak terpisahkan.

REALISASI SYAHADATAIN

Kesaksian akantauhidullah yang dinyatakan seorang mukmin menentukan Allah sebagai tujuan dan orientasi hidupnya; Islam sebagai jalan hidupnya; dan Rasul SAW, sebagai teladan dalam menapaki kehidupan. Gaya hidup yang demikian akan melahirkan hati yang bersih dan akal yang cerdas. Hati yang bersih ditandai dengan mengharap rahmat Allah; takut akan hukumanNya; dan cinta kepadaNya. Ketiganya merupakan wujud dari aqidah yang sehat yang mempengaruhi keputusan niatnya. Disamping mempengaruhi hati, syahadat juga mewarnai kecerdasan akalnya yang digunakan untuk tadabur A;Quran, Tafakur Alam, dan Dzikrul maut. Itulah pemikiran islami yang menghasilkan konsep yang benar. Niat yang tulus dan konsep yang benar inilah yang harus selalu menyertai setiap langkah orang beriman dalam melakukan harakah, jihad, dakwah, dan tarbiyah.

1. Hati yang Sehat

Hati yang Sehat adalah hati yang bebas dari segala penyakit seperti ujub, riya, takabur, hasad, dan sejenisnya. Hati yang bersih hanya akan diraih apabila orientasi hidup seseorang benar yaitu orientasi hidup yang ditujukan kepada Allah SWT. Hal ini ditandai dengan:

a. Selalu mengharap rahmat Allah (raja’)

Konsepsi ini akan mendorongnya untuk hanya melakukan yang positif dan tidak mengharap balasan kecuali dari Allah. Rahmat Allah lebih luas baginya dibangingkan kekayaan dunia dengan mengesmoingkan rahmatNya.

b. Takut hukuman Allah (khauf)

Hal ini mendorongnya untuk selalu menghindari hal-hal negatif yang mengundang kemurkaanNya, termasuk perkara-perkara syubhat sekalipun. Derita di dunia betapapun beratnya, tidak seberapa bila debanding dengan siksa akhirat.

Ketika harapan dan takutnya berpadu pada Allah, pada saat itulah cinta kepada Allah menjadi subur. Inilah aqidah yang benar yang mempengaruhi keikhlasan niatnya.

2. Akal yang Cerdas

Akal yang cerdas dalam pandangan islam adalah akal yang dapat menjalankan fungsinya untuk:

a. Mentadabburi ayat-ayat qauliyah yang terdapat di dalam Al-Qura. Ayat-ayat ini harus diapahami secara baik sebagaimana ditunjukkan oleh Rasulullah SAW.

b. Mentafakkuri ayat-ayat kauniyah yang tersebar di alam semesta. Pemahaman terhadap ayat-ayat kauniyah akan membantu memahami ayat-ayat qauliyah. Sebaliknya, ayat-ayat qauliyah mendorong untuk mentafakuri ayat-ayat kauniyah. Sehingga, pemahaman akan semakin mantap, hujjah semakin jelas, hati semakin yakin, dan aqidah semakin kokoh.

c. Dzikrul maut. Tadabur AlQuran dan tafakur alam akan memberikan kesadaran bahwa hidup didunia ini tidak abadi. Kesadaran bahwa hidup ini akan berakhir dengan kematian dan setelah kematian ada kehidupan baru yang abadi, semakin mengkristal dalam amaliyah harian.

Perpaduan yang serasi antara ketiga hal tersebut akan menghasilkan pemikiran islami dan konsep yang benar.

Seluruh aktivitas hidup mukmin termasuk harakah, jihad, dakwah, dan tarbiyah harus selalu disertai dengan niat yang tulus ikhlas lillahi ta’ala dab konsep yang benar. Niat ikhlas saja tidak cukup kalau konsepnya tidak benar, konsep saja betapapun bagusnya juga tidak cukup kalau tidak didasari dengan niat yang ikhlas.

Wallahu A’lam Bishawab

Sumber:

Syarah Rasmul Bayan, Jasiman Lc.

2 Comments

  1. anas isnaeni January 27, 2014 9:17 pm Reply

    kangen teramat sangat dengan kajian atau kumpul2 di alamanah.. rajin2 posting resume kajian di sono ya biar kangennya terobati 🙂

Leave a Reply

Saya Yakin Anda Juga Tertarik Membaca:close