Memperkuat Keunggulan Keuangan Syariah

Buku Pintar Keuangan Syariah, begitulah judul buku karya Daud Vicary Abdullah dan Keon Chee dalam edisi Indonesia. Judul aslinya adalah Islamic Finance: Why it makes sense. Kalau melihat isi keseluruhan buku sangat tepat kalau buku disebut Buku Pintar Keuangan Syariah karena buku ini mengulas tentang berbagai hal terkait keuangan syariah, seperti masalah perbankan, asuransi, lembaga pembiayaan (leasing), dan kapital market syariah.

Walaupun buku tersebut menyajikan keuangan syariah secara singkat, namun karena penyajiannya yang mudah yang dilengkapi dengan contoh-contoh akan sangat membantu pembaca, terutama bagi peminat atau bagi kalangan yang ingin mengenal keuangan syariah, untuk memahami tentang operasional keuangan syariah.

keuangan syariah

Judul          : Buku Pintar Keuangan Syariah
Penulis       : Daud Vicary Abdullah dan Keon Chee
Halaman    : 375
Edisi            : Cet. I, Tahun 2012
Penerbit     : Zaman – Jakarta

Buku ini tidak saja mengulas tentang keuangan syariah, namun penulis juga mengulas tentang praktik dan mekanisme dalam keuangan konvensional. Dengan demikian, pembaca diajak untuk mengerti letak perbedaan keduanya. Sebut saja terkait pembiayaan syariah dengan skema murabahah. Skema ini sangat populer di industri perbankan syariah atau industri pembiayaan syariah di dunia, termasuk di Indonesia.
Pembiayaan syariah dengan skema murabahah oleh sebagian masyarakat dianggap tidak ada bedanya dengan pembiayaan konvensional karena pola arus kasnya begitu mirip. Padahal pembiayaan syariah jelas berbeda dengan pembiayaan konvensional.

Lalu dimana perbedaannya?

Daud Vicary Abdullah dan Keon Chee menjelaskan bahwa pembiayaan syariah tidak berurusan dengan riba (bunga). Menurut keduanya, dalam pembiayaan syariah telah diatur dengan beberapa ketentuan, di antaranya: pertama, bahwa kreditor tidak boleh mendapatkan bunga dan debitor tidak boleh membayar bunga. Dalam pembiayaan syariah, kreditor (sebut saja bank syariah) mendapatkan laba dengan pertama-tama membeli dan memiliki aset (dan karena mengambil alih risiko kepemilikan) dan kemudian menjual aset itu kepada nasabah dengan selisih atau margin laba tertentu.

Kedua, pembiayaan syariah tidak boleh bertujuan mendapai aset haram (dilarang). Jadi, tidak mungkin mendapat pembiayaan syariah untuk membangun pabrik bir misalnya. (h. 175 – 178).

Untuk melihat perbedaan keuangan syariah dan konvesional, dalam buku ini diulas dalam beberapa bab. Pada bab 3 dikupas tentang prinsip–prinsip keuangan syariah dan bagaimana prinsip-prinsip syariah harus didahulukan sebelum tujuan-tujuan komersial apapun.

Pada bab 4 dikupas tentang bagaimana transaksi komersial harus bebas dari elemen dan kegiatan yang diharamkan. Pada bagian ini juga dibahas tentang ciri-ciri dari kontrak syariah yang sah. Kontrak-kontrak untuk segala transaksi dari urusan membuka rekening tabungan sampai hal-hal terkait polis asuransi jiwa.
Pada bab 5 dibahas tentang peran penting regulator dan lembaga internasional dalam membangun struktur keuangan syariah dan memastikan sistem keuangan syariah berfungsi dengan baik dan amanah.

Pada bab 6 dibahas tentang bagaimana satu sistem keuangan memberikan kerangka kerja bagi terjadinya transaksi komersial. Misalnya, bank yang merupakan komponen dari sistem keuangan menerima simpanan dari nasabah dan memberikan pinjaman kepada debitor. Pada bagian ini juga dijelaskan tentang soal cara kerja pasar keuangan.
Pada bab 7 sd 13 dibahas terutama dari sudut pandang nasabah yang memerlukan tabungan, pembiayaan, asuransi, dan penggunaan pembiayaan dagang untuk menjalankan bisnis. Pada bagian ini, dijelaskan bagaimana transaksi-transaksi konsumen umum ini bekerja di dalam sistem keuangan konvensional sebelum dikupas tentang versi-versi syariahnya.

Selain hal tersebut di atas, pada bab 14 dijelaskan tentang prospek dan tantangan keuangan syariah. Dalam bab ini disebutkan pendangan sejumlah pengamat pasar yang berpandangan bahwa keuangan syariah bukan hanya berhasil membendung krisis finansial, melainkan juga tumbuh kuat. Bahkan ada juga yang berpandangan bahwa runtuhnya industri keuangan syariah apa pun tidak memang tak mungkin.

Walaupun banyak kalangan berpendapat optismis atas prospek keuangan syariah, Daud Vicary Abdullah dan Keon Chee sangat hati-hati untuk mengamini pandangan mereka. Karena menurut keduanya, terlalu prematur untuk membuat klaim-klaim ini, karena industri keuangan syariah masih berusia muda. Olehnya karena, meskipun industri keuangan syariah seperti tank bersenjata yang tak terkalahkan, hal ini masih tergantung pada kondisi industri keuangan syariah dan operatornya.

Untuk memperkuat dan memajukan industri keuangan syariah, banyak hal yang perlu diperhatikan. Di antaranya: pertama, manfaat keuangan syariah harus melampaui tanggung jawab sosial dan mengentaskan kemiskinan. Berinvestasi dalam dana syariah harus menghasilkan imbal hasil yang bagus dan wajar serta sesuai dengan, bahkan kalau bisa lebih baik, tawaran investasi konvesional. Asuransi syariah harus ditawarkan dengan harga kompetitif dan fitur-fiturnya harus beragam dan disesuai dengan kebutuhan nasabah, (h. 338).

Kedua, industri keuangan syariah harus mampu mengatasi kritik terkait produk-produknya (h. 339). Dewan Pengawas Syariah yang merupakan instrumen penting untuk memastikan kepatuhan syariah untuk melakukan tugas pengawasan dengan lebih baik dan lebih profesional di industri keuangan syariah. Selamat membaca.

Peresensi: Abd. Wasik, S.Ag
Dia adalah alumni Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini sedang menyelesaikan studi Keuangan Syariah pada Pascasarjana STIE Ahmad Dahlan –  Jakarta.

Leave a Reply

Saya Yakin Anda Juga Tertarik Membaca:close