Mencari Solusi

            Kita kadang menghadapi lawan bicara yang congkak, merasa benar, dan ngotot dengan pendapatnya. Atau mungkin ini terjadi pada diri kita sendiri, merasa paling benar, dan tidak mengakui kesalahan, menyalahkan orang lain, dan tidak sadar bahwa kesalahan itu terkadang berawal dari kita.

             Besar kepala merupakan salah satu sifat buruk seseorang. Akal dan hati tidak lagi berfungsi, yang bergerak hanyalah egoisme. Biarpun ribuan orang memberi tahu kesalahan kita, kita akan tetap membusungkan dada dan berkata “saya benar dan saya pasti selalu benar“. Jika ada seseorang ingin mengkritisi, kita sering memotong pembicaraan dan menyanggah tanpa melihat seberapa penting kritikan tersebut. Padahal, masukan yang membangun justru membuat kita lebih tahu mana yang benar dan mana yang salah.

         Entah, kekuatan apa yang bisa menyadarkan manusia yang telah mencapai kepada “derajat” semacam itu. Mungkin perlu meluluhkan hati orang seperti itu, atau memang tipikal orang tersebut memang keras dan tidak mau mengalah, sehingga kehancuran dari hasil kesalahannyalah yang dapat menyadarkannya.

         solusi

            Padahal kalau kita menilik lagi, Allah telah berfirman di Q. S Asy-Syams: 8, Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan (kebaikan dan keburukan). Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

          Allah telah membekali manusia dengan potensi kebaikan dan keburukan. Bekal itu murni diserahkan kepada manusia dan manusia bertanggung jawab dengan pilihan, dominasi sikap dan apa yang telah diperbuatnya. Kita sendirilah yang bertanggung jawab atas semua tindakan yang kita lakukan, dan kita pulalah yang bisa merubahnya, tergantung seberapa besar kemauan untuk berubah.

         Sebab itu, Kita perlu mempunyai sifat rendah hati, selalu introspeksi dan siap mengakui kesalahan. Jika ratusan orang mengatakan bahwa perbuatan kita salah dan hati nurani kitapun mengatakan itu salah, seyogyanya kita tidak bersikeras untuk mengatakannya sebagai suatu kebenaran. Selalu mempertimbangkan semua yang akan kita lakukan dengan sumber dan pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan, serta dengan lapang bisa mengakui kesalahan jika ternyata kita memang melakukan tindakan diluar kebenaran.

       Untuk hal yang lebih besar, Sikap melemparkan kesalahan ke orang lain dan melupakan kesalahan diri sendiri adalah satu sikap yang membawa bencana bagi bangsa ini. Bangsa Indonesia terjangkiti sifat buruk membenarkan diri sendiri atau kelompok sendiri dan menyalahkan orang lain atau kelompok lain. Kita salahkan orang lain dan kita lupa bahwa kitapun kadang ikut andil di dalamnya.

       Menurut Zainul Ma’arif dalam artikelnya, “Bangsa Indonesia sibuk menyalahkan satu dengan yang lainnya, sedangkan problem yang seharusnya kita carikan solusi bersama, kita abaikan. Bangsa Indonesia lupa bahwa common enemy kita adalah krisis multi dimensi, bukan kawan seiring, sesama anak bangsa. “

     Seyogyanya, kita punya kerendahan hati untuk mengakui kesalahan bersama dan memperbaikinya. Untuk selanjutnya, kita kedepankan pencarian solusi dari pada pencarian kesalahan. Tujuannya adalah untuk mencapai hasil yang disepakati bersama saat menghadapi berbagai permasalahan.

3 Comments

  1. Abdul Syakur December 10, 2012 4:08 pm Reply
  2. your friend December 10, 2012 5:14 pm Reply
  3. Wahyu Ragil Saputro December 11, 2012 9:19 am Reply

    Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Saya Yakin Anda Juga Tertarik Membaca:close