Meski Miskin, Kita diajarkan untuk Bermental Kaya

B: Bro, pinjem buku yang kemarin kamu beli dong, bagus itu.
A: Besok saya bawa ya,
B: Tapi mau ku fotocopy ya bro.
A: …..

Terlintas tak ada yang janggal dengan dialog tersebut, namun ada sedikit rasa kecewa dari si A karena telah membeli buku ratusan ribu, namun difotocopy teman kita dengan harga yang sangat murah. Buku itu sama-sama bisa dinikmati keduanya, namun si A memperolehnya dengan berkorban lebih banyak daripada si B.

Ini sedikit cerita dari sahabat saya, saat punya teman yang tidak mau berkorban banyak namun ingin hasil lebih.  Menurut saya orang seperti ini meskipun kaya tetapi mempunyai mental miskin. Selain pelit, Orang bermental miskin selalu fokus pada dirinya. Alasan yang paling popular di kalangan orang-orang seperti ini adalah untuk efisien. Namun menurut saya, jika mampu untuk membeli yang asli, maka belilah. Beli penghargaan lebih kepada pembuat buku tersebut.

GIVE

Dari buku, kita berpindah ke urusan yang sedang hangat-hangatnya saat ini. Kabar kenaikan harga BBM. Pemerintah telah menghimbau bahwasanya BBM bersubsidi adalah untuk kalangan menengah ke bawah, namun pada kenyataannya, BBM dinikmati oleh kalangan orang-orang kaya. Adakah yang salah?. Pemerintah jelas tidak bisa mengontrol semua warganya untuk mematuhi himbauan tersebut. Pemerintah mengharapkan agar masyarakatnya sadar bahwa bbm subsidi bukan untuk si kaya.

Kita harus berpikir positif kepada pemerintah, bahwa pemerintah melakukan kegiatan subsidi semata-mata ingin agar Negara ini maju, tanpa harus melupakan masyarakan yang masih susah. Seharusnya orang-orang kaya yang masih menggunakan BBM bersubsidi juga harus malu, karena mengambil jatah yang bukan haknya, malu karena dengan perbuatannya bisa memiskinkan orang miskin. Orang-orang kaya yang bermental misikin inilah justru yang membahayakan karena menjadi salah satu faktor tersendatnya kita menuju negara maju.

Di sisi lain, saya melihat orang biasa yang rela dan bersedia menolong banyak orang. Jika dilihat dari hidup, orang ini sangat sederhana, namun  hatinya berlimpah dan kebahagiaan melingkupi hatinya. Meski tidak kaya, mereka tetap terhormat dimata masyarakat. Manurut saya, orang seperti ini, meski sederhana namun bermental kaya.

Sebagai teladan, kita mengenal sahabat yang dikenal sebagai bapak kaum miskin (dhuafa) Abu Dzar Al Ghifari, namun ia justru mempunyai mental yang kaya. Suatu saat datanglah seorang tamu ke rumahnya, Kemudian Abu Dzar meminta pelayannya menyembelih satu domba terbaik untuk disajikan kepada sang tamu. Namun Sang pelayan justru menyembelih domba nomor dua terbaik. Mungkin karena si pelayanan merasa sayang dan berfikir untuk meyisakan domba terbaik untuk tuannya saja. Namun apa yang terjadi? Abu Dzar justru marah dan menegur sang pelayan karena Abu Dzar justru menginginkan harta terbaiknya lah yang menjadi harta abadinya, kekal dan berlipat ganda nilai kebaikannya yaitu harta yang ia keluarkan dengna ikhlas untuk memuliakan tamunya.

Banyak motivator menganjurkan kita untuk Bermental kaya, kenapa? Bayangkan jika kita sejak dini dilatih untuk tidak meminta-minta kepada orang lain, sikap berusaha kita akan semakin tinggi. Semakin tinggi usaha, akan memperbesar peluang untuk berhasil. Jika Targetnya ingin memperoleh rezeki, maka rezeki akan mudah datang kepada mereka yang berusaha.

Pernahkah pembaca merasakan Saat dalam kondisi keuangan yang menipis, lalu memaksakan bersedekah atau memberi langsung ke orang tak mampu kemudian merasakan hatinya tentram (legowo) sesaat setelah memberikan? Saya yakin, rasa legowo yang dididapatkan nilainya jauh lebih berarti dari nominal yang telah diberikan, walaupun pada awalnya berat untuk memberikannya.

Maka, milikilah mental kaya. Saat sedang miskin pun kita dapat legowo, apalagi saat sedang kaya. Memiliki mental kaya tidak menunggu kaya. Bagilah apa yang kita miliki saat ini untuk mengangkat harkat dan martabat orang-orang di sekitar kita.

Semakin kita bermental kaya, maka kita akan semakin kaya. Bisa jadi kaya penghormatan, kaya kaya kebahagiaan, dan bisa jadi nih kita akan benar-benar kaya dalam harta. Salam.

2 Comments

  1. Ania Maharani July 29, 2013 2:29 pm Reply

    kaya harta bukan berarti kaya hatinya 😀
    menarik ulasannya..

    #btw, pake pertamax lebih ngirit daripada premium, loh.. hehe

Leave a Reply

Saya Yakin Anda Juga Tertarik Membaca:close