Tiga Gunung: Prolog ‘Lapis-lapis Keberkahan’

Dua gunung yang pertama; Akhsyabain julukannya.

Seperti sebutan itu pula wujudnya; dua yang kokoh, pejal, dan keras. Bagai mempelai pengantin, keduanya menjulang tinggi dengan gagah dilatari pelaminan langit. Cahaya mentaripun melipir ketika bayang-bayangnya jatuh di hamparan pasir. Dinding gunung-gunung ini cadas berrona merah, menyesak ke arah Thaif dan Makkah. Angin gurun yang sanggup menerbangkan kerikil, seakan tak mampu mengusiknya walau secuil.

Yang satu bernama Abu Qubais, sedang pasangannya Qa’aiqa’an.

Adalah malaikat penjaga kedua gunung ini suatu hari digamit Jibril menyapa seorang lelaki yang berjalan tertatih di Qarn Al Manazil. Bekas darah yang merahnya mulai menua dan lengket masih tampak di kakinya. Ada yang bening berbinar sendu di sudut matanya. Wajah itu tetap cahaya meski awan lelah dan kabut duka memayungi air mukanya. Jelas beban berat menggenangi jiwanya, tapi kita nanti akan tahu, yang tumpah ruah tetaplah cinta. ::Baca Lebih Lanjut>>

Vaksinasi Antikorupsi: Cegah Masyarakat dari Penyakit Korupsi

Mendengar kata korupsi, satu yang terlintas di dalam pikiran saya adalah sebuah penyakit. Penyakit berbahaya yang dapat mengancam sendi moral kemanusiaan, kemudian menjalar ke lingkup yang lebih luas dan menghancurkannya. Korupsi merupakan penyakit yang telah menggurita dan menjalar di negeri ini. Hampir semua sektor di negeri ini tidak ada yang steril dari yang namanya korupsi. Kementerian agama yang dalam pandangan kita merupakan instansi religius, akhir-akhir ini tersandung kasus korupsi dana haji. Belum lagi oknum-oknum diinstansi lain yang terkenal korupnya, sebut saja kehakiman, kepolisian, sampai ke perpajakan.

Kawan, korupsi yang sering kita dengar bukanlah isu yang baru di kalangan masyarakat. Ironisnya, penyakit ini tetap berlangsung meski beragam upaya dan wacana terus didengungkan untuk memeranginya. Semestinya tak hanya institusi-institusi pengamat ataupun pemberantas korupsi saja yang sibuk bersuara,  tetapi gerakan menjadikan kejujuran sebagai sebuah budaya bangsa dan menghalau semua tindakan penggerogotan bangsa ini hendaknya juga menjadi tanggungjawab setiap warga negara. Apalagi kita, kita yang dalamtaraf ini masih tergolong muda: Mempunyai tenaga lebih, pemikiran komprehensif, dan kemampuan fisik yang  seharusnya lebih bisa menggerakkan masyarakat untuk memberantas penyakit ini. ::Baca Lebih Lanjut>>

Gede Expedition: Khatam Al-Quran Bersama Edelweiss

Gede Expediton, sebuah Judul di WA (WhatsApp) yang baru saja dibuat oleh teman sependakian ke gunung Gede 6-8 Juni 2014 kemarin. Judul ini pula yang akan saya gunakan untuk menulis perjalanan ke puncak gunung Gede (2.958 Mdpl) dari mendaki sampai turun.  Tema Pendakian adalah ‘Khatam Al-Quran Bersama Edelweiss’ dengan peserta dari Rumah Al-Quran Indonesia.

Pendakian ini adalah pertama kali bagi saya. Dengan niat untuk menambah teman dan menghapus penasaran bagaimana kesan mendaki gunung, saya pun berniat untuk berangkat. Apalagi mendapat dorongan dari teman dan istri yang merupakan ‘doping’ tersendiri bagi saya untuk menuntaskan tantangan ini. ::Baca Lebih Lanjut>>

Cinta yang Mengingatkan dan Menguatkan

Hidup sendiri tidak jauh dari perasaan kesepian. Fitrahnya, manusia tidak akan  tahan hidup sendirian, tidak memiliki lingkungan pergaulan, apalagi sampai dengan mengisolasi diri. Perasaan kesepian ini akan memunculkan masalah kesehatan dan bahkan mempercepat kematian. Mungkin karena untuk menghindari perasaan seperti ini, maka ada kecenderungan saya untuk mempunyai pasangan hidup untuk menjadi sahabat, teman mengobrol dan berdiskusi, serta berkomunikasi.

Setelah meniatkan diri untuk mencari pendamping, Saya akhirnya memutuskan untuk menikah. Jalur yang saya lalui adalah dengan proses Ta’aruf. Agak jarang mungkin di kalangan Masyarakat Indonesia, apalagi di lingkungan yang akrab dengan sistem pacaran sebelum menikah. Kami berdua belum pernah kenal sebelumnya meskipun kami menuntut ilmu di kampus yang sama. Kami berkenalan, saling mengutarakan visi, kemudian menemukan kesesuaian dan akhirnya kami memutuskan untuk menikah. ::Baca Lebih Lanjut>>

Yuk, Ng-ODOJ!

Hari ini adalah hari ke 161 saya mengikuti program One Day One Juz.  Artinya, sudah 5 kali khatam sejak meniatkan diri untuk konsisten tilawah 1 juz dalam sehari. Sejak tergabung dengan ODOJ 121 yang anggotanya mayoritas dari ikhwah STAN baik senior maupun junior, Intensitas untuk bertemu dengan Al Quran menjadi lebih banyak. Setiap hari saya jadikan membaca Qur’an sebagai kebiasaan sehingga serasa ada yang kurang jika belum membacanya dalam sehari. Seperti kebiasaan makan dan minum. Sudah otomatis, tilwah ini adalah makanan ruhani.

Gerakan One Day One Juz (ODOJ) tumbuh dengan pesat. Semenjak soft launching tanggal 11 November 2013 hingga Maret 2014, jumlah anggota ODOJ sudah mencapai 87.000 ODOJ-er (sebutan untuk member ODOJ) yang tersebar dari berbagai penjuru dunia. Setiap hari ratusan orang bergabung untuk bersama saling mengingatkan agar mencapai target tilawah satu juz setiap harinya. Dari yang tua sampai yang muda semuanya berlomba-lomba untuk tilawah satu juz. Dari teman kerja sampai dengan orang yang biasa saya temui di jalan juga antusias memegang mushaf-nya. ::Baca Lebih Lanjut>>