Menjadi “Short-term Auditor”: Nikmat walau Sesaat

Sebelumnya Saya tidak pernah menyangka jika setelah lulus STAN bakal bekerja di perusahaan swasta. Lulus STAN itu ya langsung jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan titel Sebagai abdi negara. Banyak teman yang mengatakan bahwa setelah lulus dari STAN akan menjadi punggawa keuangan Negara. Tidak heran, karena mahasiswa STAN ‘diciptakan’ selama 3 tahun sebagai pengelola dan pengatur keuangan Negara.

Stan Angkatan 2009 (lulus tahun 2012), bisa dikatakan sebagai angkatan kurang beruntung karena kebijakan moratorium yang mengakibatkan tertundanya pengangkatan sebagai pegawai. Kebijakan ini membuat banyak mahasiswa mengisi kekosongan dengan melakukan berbagai kegiatan sampai dengan September 2013 nanti, (mungkin Januari 2014 ini?). ::Baca Lebih Lanjut>>

Meski Miskin, Kita diajarkan untuk Bermental Kaya

B: Bro, pinjem buku yang kemarin kamu beli dong, bagus itu.
A: Besok saya bawa ya,
B: Tapi mau ku fotocopy ya bro.
A: …..

Terlintas tak ada yang janggal dengan dialog tersebut, namun ada sedikit rasa kecewa dari si A karena telah membeli buku ratusan ribu, namun difotocopy teman kita dengan harga yang sangat murah. Buku itu sama-sama bisa dinikmati keduanya, namun si A memperolehnya dengan berkorban lebih banyak daripada si B.

Ini sedikit cerita dari sahabat saya, saat punya teman yang tidak mau berkorban banyak namun ingin hasil lebih.  Menurut saya orang seperti ini meskipun kaya tetapi mempunyai mental miskin. Selain pelit, Orang bermental miskin selalu fokus pada dirinya. Alasan yang paling popular di kalangan orang-orang seperti ini adalah untuk efisien. Namun menurut saya, jika mampu untuk membeli yang asli, maka belilah. Beli penghargaan lebih kepada pembuat buku tersebut. ::Baca Lebih Lanjut>>

Kesinambungan Fiskal dan Utang

Pemenang Nobel Ekonomi 2011, Thomas J. Sarent dalam artikelnya United States then, Europe Now menyatakan The ability to borrow today depends on expectations about future revenues. Sargent melihat, utang pada dasarnya tidak perlu dipersoalkan, sepanjang dapat menghasil kan pendapatan (revenues) yang cukup untuk membayar kembali utang tersebut.

Namun, dalam praktiknya banyak negara dengan mudah melakukan utang, tetapi tidak mampu menghasilkan pendapatan cukup, sehingga utangnya tak terbayarkan.

Contoh yang paling riil saat ini adalah negara-negara di Eropa. Bagaimana dengan Indonesia? Pertanyaan ini, saya kira relevan untuk digali, terutama bila dikaitkan dengan konteks saat ini, ketika Pemerintah dan DPR sedang membahas RAPBN-(P)erubahan 2013. ::Baca Lebih Lanjut>>

Pandai Memposisikan Diri

Pandai memposisikan diri merupakan salah satu sukses dalam pergaulan. Mengerti posisi diri membuat seseorang terampil dalam bersikap, berbicara dan berbuat, sehingga dalam interaksi dengan siapapun ia selalu mampu membahagiakan pihak-pihak yang berhubungan dengannya. Mereka juga mampu memperlakukan orang lain secara terhormat, meskipun orang yang dihormati tersebut berusaha memupus martabatnya. Orang yang pandai memposisikan diri, sanggup menentukan sikap terbaik, dalam interaksi dengan siapapun, dimanapun, dan apapun suasana yang melatari interaksi tersebut. ::Baca Lebih Lanjut>>

Selalu Ada Sisi Baik

Setiap Koin mempunyai dua sisi, Kita bisa lihat satu sisi buruk, dan satu sisinya baik. Namun, kebanyakan dari kita akan memandang bahwa setiap keburukan yang datang dari orang lain akan membuat kita membenci orang tersebut. Salah satu yang sering kita lakukan adalah dengan puasa berbicara dengannya, diam tanpa berkomunikasi selama beberapa hari.

Kita belum tahu apa penyebab orang lain marah, namun dengan segera bisa mudah menyimpulkan bahwa kita dipihak yang benar. Jika ‘berani’ menelusuri, mungkin ada sebabnya dia marah, jika tahu demikian, kata maaf adalah jalan terbaik. Meskipun ada diantara kita yang tetep ngotot mendiami orang tersebut padahal sudah tahu kita di pihak yang salah. ::Baca Lebih Lanjut>>