Pandai Memposisikan Diri

Pandai memposisikan diri merupakan salah satu sukses dalam pergaulan. Mengerti posisi diri membuat seseorang terampil dalam bersikap, berbicara dan berbuat, sehingga dalam interaksi dengan siapapun ia selalu mampu membahagiakan pihak-pihak yang berhubungan dengannya. Mereka juga mampu memperlakukan orang lain secara terhormat, meskipun orang yang dihormati tersebut berusaha memupus martabatnya. Orang yang pandai memposisikan diri, sanggup menentukan sikap terbaik, dalam interaksi dengan siapapun, dimanapun, dan apapun suasana yang melatari interaksi tersebut.

Orang yang pandai Memposisikan diri inilah orang yang mempunyai kemampuan untuk meletakkan diri sendiri dan orang lain pada tempat-tempat yang baik. Orang ini cenderung mudah diterima di lingkungan pergaulan. Jika sedang mengalami lawan bicara yang cenderung emosional, dia pandai menjaga emosi dengannya, berbeda dengan saat berhadapan dengan orang yang humoris, dia akan berusaha senyaman mungkin untuk menghormatinya dalam suasana yang sama-sama humoris.

Sahabat Rasulullah, Ali Bin Abi Thalib r.a, menegaskan bahwa setidaknya seorang manusia dituntut untuk terampil dalam memposisikan diri, setidaknya dalam tiga objek yang berbeda. Cakupan ini lebih luas dari sekadar berinteraksi dengan manusia, yaitu ia dituntut untuk terampil bersikap dihadapan Rabb-nya, dihadapan orang-orang atau masyarakat dimana ia hidup, dan bahkan dihadapan dirinya sendiri.

“Jadilah kamu sebaik-baik manusia di sisi Allah, dan anggaplah kamu sejelek-jelek manusia menurut dirimu sendiri, dan jadilah kamu orang yang berguna ditengah-tengah masyarakat”, nasihat Beliau.

Dalam nasihat itu dijelaskan jika seseorang berhadapan dengan Rab-nya, maka ia dituntut untuk berusaha melakukan amalan terbaik yang disukai Rabb-nya, dengan sekuat-kuat kemampuan. Jika amalan terbaik dan sekuat kemampuan telah diupayakan, maka kepada batinnya ia harus merendahkan diri. Tawadhu terhadap diri sendiri itu dimanifestasikan dengan, menganggap apa yang dilakukan masih belum sempurna, menganggap apa yang mampu diperbuat sungguh tak akan pernah sebanding, dengan nikmat yang Allah SWT limpahkan kepada dirinya. Dalam memposisikan dirinya ditengah-tengah masyarakat, seseorang hendaknya selalu mengupayakan berbagai hal yang bermanfaat, baik bermanfaat secara fisik maupun mental, bagi masyarakat sekitarnya. Dengan begitu, jadilah ia orang yang berguna di lingkungan masyarakat.

Dengan Pandai Memposisikan diri, banyak manfaat yang didapat. Mudah mendapatkan teman, mencairkan suasana yang tegang, dan Membuat lingkungan menjadi terasa nyaman. Namun, berusaha memposisikan diri tidak berarti harus memaksakan kehendak yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan, karena memposisikan diri juga berhubungan dengan tanggungjawab seseorang akan sesuatu hal yang dilakukannya. Semoga kita menjadi seseorang yang memposisikan dirinya menjadi lebih berkualitas, memiliki integritas yang baik untuk diposisikan sebagai seseorang yang pantas diterima oleh orang lain di dalam lingkungannya, disini bisa juga berarti mengingatkan kita agar menjadi lebih baik lagi, memiliki keinginan dan merupakan kebutuhan untuk menempatkan diri dalam posisi yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Sumber:

– Abu Rashif AE, “Menjadi Manusia Terbaik Dihadapan Allah”
– Amung Palupi, “Memantaskan Diri”

Leave a Reply

Saya Yakin Anda Juga Tertarik Membaca:close