Yang Lapang, Yang Menang

Suatu hari saya membersamai sahabat-sahabat mengikuti pertandingan futsal, Pertandingan penting antar ikhwah kampus. Membersamai saja, ikut mengatur pola permainan, tapi tidak sampai turun lapangan (Mengakui kemampuan sendiri, he..he..he). Tim Kami boleh dibilang mengalami Kejutan karena pada saat itu menjuarai turnamen. Tanpa merasa mengurangi rasa bahagia, kami pun saling sharing dan berbagi seputar perjalanan pertandingan. Hingga satu pertanyaan terlontar, Kok bisa ya kita menang? Kan kita kan orangnya cupu-cupu. Serentak semua tertawa, hingga ada yang mengungkapkan bahwa kemenangan ini berawal dari doa-doa kita, Doa yang lapang:

Ya Allah, Berkahilah permainan ini, Menang dan Kalah adalah karuniaMu, Itu tidak masalah bagi kami, berikanlah pelajaran yang bernilai pada permainan ini.”

Lapang Dada

Doa yang lapang, hingga menebar ke ‘rasa’ permainan yang terbuka tanpa beban. Belum tentu saat diberi kemenangan, kita lebih mulia di hadapanNya, karena saat menang, kepongahan justru meninggi, kesombongan justru memuncak. Sedangkan yang kalah, bisa jadi dia lapang bersabar. Inilah juara sejati.

Beralih tentang futsal, mari kita menuju salah satu sahabat Rasulullah Abdullah bin Mas’ud. Suatu saat Beliau melihat ada seseorang di pasar yang kehilangan harta yang ia siapkan untuk transaksi jual beli. Doa pun ia ucapkan,

“Ya Allah, patahkanlah kedua tangan pencuri itu, yang telah mengambil harta milikku tanpa hak. Dan laknatilah pelakunya.”

Abdullah bin Mas’ud berkata, “(Saudaraku), berdo’alah,’Ya Allah jika orang yang mengambil harta milikku untuk memenuhi keperluannya yang mendesak, maka berkahilah hidupnya. Dan jika ia melakukannya karena terbiasa dengan perbuatan dosa besar, maka jadikanlah dosa (mencuri) ini sebagai penutup dari dosa-dosanya yang pernah ia ukir dalam hidup ini.”

(Shalih al Shami, al muhadzab min ihya ulumudin).

MasyaAllah, betapa Lapangnya Abdullah bin Mas’ud, Semoga kita bisa meneladani sifat Beliau. Bukti kita mempunyai jiwa lapang dada adalah kita teramat mudah mendo’akan kebaikan dan keberkahan bagi apa saja: Diri sendiri, orang lain, dan orang yang pernah melukai perasaan kita, Mendzalimi, dan Menghina kita. Ya, sangat mudah, kita persepsikan kelapangan di Doa yang kita ucapkan, baik awal maupun akhir.

Kalau saya mengutipkan kata-katanya Ust. Salim A. Fillah, Bahwa Sesendok garam tetaplah sesendok garam. Yang berbeda adalah ke mana ia dilarutkan. Jika sesendok garam masuk ke segelas air, tentu asin-mendekati pahit-rasa yang ada. Tetapi jika ia melarut diri ke dalam telaga, apa yang bisa dirubahnya? Tidak ada. Ya, Musibah (dan sebaliknya, kenikmatan yang melenakan) tetaplah musibah. Yang berbeda adalah seberapa besar luasan hati dan kelapangan dada kita. Jika hati sekecil dan serapuh gelas kaca, musibah-musibah kecil terasa menjerih-jerih. Jika hatimu seluas samudera teduh, badai sebesar apakah yang mampu mengaduknya?

Mereka yang Lapang, Mereka lah yang menang.

2 Comments

  1. anas isnaeni February 13, 2014 3:43 pm Reply

    wah senada nih ngomonginnya dengan yang satu ini http://nazhalitsnaen.wordpress.com/2014/02/13/hati-selapang-samudera/ *ups promo ahaha… sedang merasakan butuhnya kelapangan juga… nice post… jfs 🙂

    • Agil Saputra February 14, 2014 4:31 pm Reply

      Halah, Promo terus..
      aktif Blogroll nih, Dimana-mana ada blognya mas Anas, hehe.

      Aku Juga lagi latihan mas, apalagi di tempat kita bekerja. #Ehm

      http://Agilsaputra.com/

Leave a Reply

Saya Yakin Anda Juga Tertarik Membaca:close